Suasana Sekte Api Langit yang semula dipenuhi kekacauan mendadak membeku dalam keheningan ketika sebuah portal berpendar muncul di atas mereka. Semua mata tertuju ke arah langit, napas tertahan dalam dada masing-masing.

Dari dalam pusaran energi yang berputar perlahan, muncul sosok pria misterius—seseorang yang sebelumnya dianggap sebagai penyelamat, namun juga merupakan pembunuh Ketua Sekte mereka.

Saat portal itu menghilang, sosoknya menjadi semakin jelas. Ia mengenakan pakaian hitam dengan lapisan abu-abu metalik yang berkilauan samar di beberapa bagian tubuhnya. Aura yang terpancar darinya begitu mengintimidasi hingga membuat seluruh murid, guru, dan tetua membatu di tempatnya.

Seorang murid bergumam dengan suara gemetar, “Dia... dia yang membunuh Ketua Sekte…”

Keributan kecil pecah di antara para murid. Kebingungan dan ketakutan bercampur menjadi satu. Sosok ini adalah orang yang sama yang telah menyelamatkan mereka dari Shen Mo, namun juga merupakan tangan yang merenggut nyawa pemimpin mereka.

"Tapi... kenapa dia terasa berbeda?" bisik seorang murid dengan dahi berkerut.

"Aku ingat dengan jelas, sebelumnya dia hanya berada di ranah Forging Qi tingkat dua," ujar yang lain dengan nada tak percaya. "Tapi sekarang... auranya begitu menakutkan. Mungkinkah ini orang yang berbeda?"

Di antara para tetua, suasana juga dipenuhi ketegangan. Mereka merasakan tekanan yang luar biasa dari sosok pria itu, sebuah perasaan yang hanya pernah mereka rasakan di hadapan makhluk dari ranah Immortal. Itu adalah aura yang sama yang mereka rasakan dari Shen Mo, atau bahkan leluhur sekte mereka.

"Tetua Luan... bagaimana ini? Apakah dia benar-benar orang yang sama?" bisik seorang tetua dengan suara bergetar.

Tetua Luan tetap terdiam, tatapannya terpaku pada sosok di depan mereka. Posturnya, gerakannya, semuanya tampak persis seperti pria yang mereka kenal sebelumnya. Namun... ada sesuatu yang berbeda.

Di sisi lain, Guru Yuan menyipitkan mata, lalu berbisik pada tetua di sebelahnya, "Aku curiga... artefak yang ia gunakan sebelumnya telah direbut oleh seseorang dari ranah lebih tinggi. Itu sebabnya auranya berubah drastis. Jika dugaanku benar, maka orang ini juga adalah pembunuh Ketua Sekte kita."

Namun yang paling terkejut adalah para Grandmaster Sekte Kegelapan. Kepercayaan diri yang mereka tunjukkan sebelumnya seketika menghilang, berganti dengan ketegangan yang menusuk hingga ke tulang. Mereka mencoba merasakan kekuatan pria itu—tetapi...

Tak satu pun dari mereka mampu mendeteksi tingkat energi sosok tersebut. Namun tekanan yang ia pancarkan begitu luar biasa, membuat tubuh mereka gemetar tanpa sadar.

"Dia... Immortal…" bisik salah satu Grandmaster dengan wajah pucat.

Baik pihak Sekte Api Langit maupun Sekte Kegelapan kini berada dalam kebimbangan. Apakah sosok ini kawan... atau lawan?

Sebab, jika ia adalah musuh, maka harapan hidup mereka akan musnah seketika.

Lynx menatap tajam ke arah pria yang mencengkeram leher seorang wanita, murid sekte Api Langit. Matanya yang tajam berkilat, lalu perlahan ia mengaktifkan Mata Tembus Pandang, menembus tubuh pria itu untuk mengungkap asal-usulnya.

Aura mereka sudah memberinya firasat, tapi ia perlu memastikan.

"Ternyata benar, mereka juga dari Sekte Kegelapan." Batin Lynx, matanya tertuju pada giok yang tersembunyi di balik pakaian pria tersebut.

Dengan langkah tenang, ia maju. Udara di sekitarnya bergetar seolah terkoyak oleh auranya yang mendominasi. Suaranya berat dan dingin, menusuk langsung ke relung ketakutan mereka. "Aku tahu kalian dari Sekte Kegelapan. Lepaskan wanita itu, atau aku akan membunuhmu dengan cara yang sangat menyakitkan."

Grandmaster yang menggenggam leher wanita itu merasakan keringat dingin mengalir di pelipisnya. Ia sangat memahami tingkat kekuatan pria di depannya—jika mau, Lynx bisa membunuh atau menyiksanya dalam sekejap.

“T-Tuan, kami tidak mengenalmu... Tidak ada dendam pribadi di antara kita... Aku juga tidak berniat benar-benar menyakitinya…” Grandmaster itu tergagap, buru-buru melepaskan cengkeramannya. Awalnya, ia bermaksud menggunakan wanita itu sebagai ancaman, tetapi begitu mendengar bahwa pria di hadapannya adalah pembunuh ketua sekte mereka, pikirannya langsung berubah.

Lynx tetap diam, matanya yang dingin menatap mereka tanpa ekspresi. Otaknya bekerja cepat, merancang strategi untuk membasmi Sekte Kegelapan hingga ke akar-akarnya.

Kelima Grandmaster lainnya berdiri berdekatan, saling berbisik dengan wajah tegang.

“Apa yang harus kita lakukan? Kita tidak mungkin menang melawannya.” Salah satu dari mereka berbicara dengan nada khawatir.

“Sepertinya dia juga mengincar Kunci Dimensi. Jangan berharap dia akan melepaskan kita. Bersiaplah, aku tidak akan mati begitu saja tanpa perlawanan.”

Kelima Grandmaster itu segera mengedarkan energi mereka, bersiap menghadapi pertarungan yang tampaknya tak terhindarkan.

Namun, kalimat yang keluar dari Lynx berikutnya membuat darah mereka membeku.

"Pergilah. Aku tidak akan membunuh kalian."

“...”

Mata mereka membelalak. Para murid, guru, dan tetua yang menyaksikan adegan itu juga terkejut, tidak percaya dengan keputusan pria itu.

Di sudut lain, Li Wei yang mengintip bersama Lala dan Leena pun dibuat bingung.

"Kak Ling Mei, kenapa Xiao Ling melepaskan mereka? Kenapa dia tidak membunuh mereka?" Li Wei berbisik, ekspresinya penuh kebingungan.

Ia sudah berkali-kali menyaksikan kemampuan Lynx. Baginya, membunuh para Grandmaster itu seharusnya semudah membalikkan telapak tangan—terutama jika ia menggunakan teknik pembunuhannya yang dapat menembus kepala lawan hanya dengan satu serangan dan meninggalkan bekas dua lubang terbakar.

Leena teringat kejadian di pulau dan Dunia Kecil, bagaimana Lynx selalu menghabisi musuhnya tanpa ragu. Namun, kali ini berbeda.

"Aku tidak tahu... Tapi pasti ada alasannya."

Lala, yang mendengarkan percakapan mereka, segera memperingatkan dengan suara lirih, "Jaga bicara kalian! Jangan sembarangan menyebut nama. Apa kalian ingin mereka mendengar dan mengetahui identitasnya?"

Li Wei dan Leena langsung terdiam, menyadari kecerobohan mereka.

"Apakah Lynx tidak sanggup melawan mereka? Jika bertarung, kekuatan aslinya akan terlihat..." Batin Lala.

Meski ia tahu betapa kuatnya Lynx, satu-satunya pertarungan besar yang pernah ia saksikan secara langsung adalah saat di Pulau Terlarang—ketika Lynx melawan Leluhur Monrest dan naga besar. Sejak saat itu, ia belum pernah melihat pria itu bertarung dengan kekuatan penuhnya di dunia ini. Penasaran mulai menggelayuti benaknya.

Di hadapan para Grandmaster Sekte Kegelapan, Lynx melangkah maju dan berbicara dengan suara menggelegar, "Kalian tidak perlu ragu. Aku akan memegang kata-kataku dan membiarkan kalian pergi. Sampaikan kepada ketua kalian bahwa Sekte Api Langit ada dalam perlindunganku."

Ia berhenti sejenak, membiarkan ucapannya menusuk ke dalam hati mereka sebelum menambahkan, "Dan katakan... yang membunuh dua Immortal dari sekte kalian adalah aku."

“APA!?”

Kelima Grandmaster itu membelalak, wajah mereka seketika pucat pasi.

"Tidak mungkin…!"

Kedua Immortal yang mereka cari mati di tangan pria ini?

Salah satu dari mereka berbisik, "Benarkah dia yang membunuh Yang Fei dan Bai Xu? Mereka berdua sangatlah kuat."

Yang lain segera menjawab dengan suara tajam, "Dari mana dia bisa tahu tentang mereka kalau itu tidak benar? Tutup mulutmu! Kita harus segera pergi!"

Para murid dan tetua yang menyaksikan adegan itu pun sama terkejutnya. Jika pria ini benar-benar membunuh dua Immortal, seberapa menakutkannya kekuatan yang ia miliki?

Grandmaster bertubuh kekar yang tadi hampir mencekik murid perempuan menelan ludah. Ia bertukar pandang dengan keempat rekannya.

Tidak. Tidak ada harapan melawan pria ini.

“Kami mengerti, Tuan… Kami akan menyampaikan pesan ini…” katanya dengan suara bergetar.

Tanpa mereka sadari, dalam sekejap mata, Lynx telah meninggalkan jejak energinya pada salah satu dari mereka. Matanya berkilat dingin.

"Dengan begini, aku tahu ke mana harus pergi untuk menghancurkan sarang kalian."

Ia menyembunyikan senyum samar di balik helmnya.

Sebelum pergi, salah satu dari mereka memberanikan diri bertanya, “Siapa… siapa nama Tuan agar kami bisa melapor kepada ketua kami dengan benar?”

Lynx terdiam sejenak. Ia tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu. Dia perlu identitas agar orang bisa memanggilnya dan dia ingin nama yang terlihat berbeda, sesuatu nama yang unik, susah dihapalkan tapi saat mendengarnya, orang akan langsung mengingatnya.

Setelah berpikir sesaat, ia akhirnya menjawab, "Kalian bisa menyebutku... Plasura."

